Kamis, 08 Desember 2011

Cerpen


SHINTA
                                               
S


hinta adalah seorang anak yang pintar dan cantik. Namun sayang, hal tersebut membuat Shinta menjadi anak yang sombong dan angkuh. Dia selalu merasa kalau dia yang paling hebat, dia yang paling pintar dan Shinta selalu mengejek teman-temannya dengan kata-kata yang pedas.
            “Bruk”! tanpa sadar Riri menabarak Shinta
            “Woy, punya mata dipakai dong”! Sentak Shinta dengan kesal
            “Maaf, Shin aku tidak sengaja” jawab Riri dengan terbata-bata
            “Kamu tidak melihat aku berdiri disini”?
            “Maaf, Shin aku benar-benar tidak sengaja”
            “Sekarang kamu berlutut padaku”!
            “Berlutut”?
            “Ia, berlutut. Kenapa? Tidak mau? Atau kamu mau saya permalukan di depan umum? Pilih yang mana”?
            “Baiklah, aku berlutut” (Berlutut)
            “Bagus! Sekarang pergilah”!
            (pergi meninggalkan Shinta)
            Keesokan harinya, ketika disekolah, jam pertama pelajaran pun dimulai. Pak Saipudin memasuki kelas bersama seorang lelaki yang memakai seragam yang berbeda. Ternyata lelaki itu adalah Fadhlih, murid baru dari SMP Tunas Harapan 1, Bojotilu.
            “Selamat pagi anak-anak”
            “Selamat pagi, Pak”
            “Hari ini kita mendapat teman baru, namanya Fadhlih. Dia pindahan dari SMP Tunas Harapan 1, Bojotilu. Bapak harap kalian dapat barsikap baik padanya”.
            “Tenanglah Shinta dia bukan anak yang pintar, dia tidak akan menggantikan posisimu”. Gumam Shinta dalam hati.
            “Fadhlih, silahkan duduk disebelah Shinta”! Tukas Pak Saipudin
            “Baik Pak” Jawab Fadhlih
            Pelajaran pak Saipudin pun selesai . Namun ada yang berbeda dengan Shinta, dia kelihatan cemas,setelah mengetahui Fadhlih anak yang pintar, dia selalu mendapat ranking disekolahnya.
            Mulai saat itu, Shinta sering bertingkah aneh, dia selalu mengawasi Fadhlih, sampai-sampai dia melupakan pelajarannya. Dia tidak ingin Fadhlih menggantikan posisinya. Setiap hari Shinta membuat Fadhlih tidak betah dan tidak konsen dengan pelajaran. Namun, Fadhlih sama sekali tidak terganggu dengan tingkah Shinta.
            Sampai akhirnya pembagian rapor pun tiba. Betapa terkejutnya Shinta ketika mengetahui Fadhlih lah yang menjadi juara pertama. Shinta menangis menyesali perbuatannya. Dia sadar, tindakannya merugikan dirinya sendiri, seharusnya dia belajar dengan sungguh-sungguh, bukannya terus mengganggu Fadhlih. Akhirnya, semenjak kejadian itu Shinta tidak pernah menjahili teman-temanya lagi dan selalu bersikap manis pada teman-temannya, terutama Fadhlih. Sekarang Shinta dan Fadhlih pun menjadi sahabat.


Selesai
           

2 komentar: